harian bangsa

Sabtu 26 Januari 2008 1:21:43
Lima Anggota Dewan Diperiksa, Agustin Bungkam

KEPOLISIAN Daerah (Polda) Jatim kemarin mulai memeriksa 45 anggota dewan secara bergiliran. Sebanyak lima anggota DPRD Surabaya yang diduga ikut terlibat dalam praktik gratifikasi (suap) masuk ‘kloter’ pertama pemeriksaan kemarin. Kelima anggota dewan yang mendapat ‘kloter’ pertama pemeriksaan tersebut adalah Akhmad Suyanto (PKS), Agustin Poliana (PDIP), Husein Yasin (PKB), Retna Wangsa Bawana (PDS), dan Yuzuar Datuk (PAN).

Dari kelima anggota dewan tersebut, Akhmad Suyanto dan Retna Wangsa Bawana yang bersedia memberikan komentar. Suyanto mengaku mendapat 14 pertanyaan seputar rencana proyek Bus Rapid Transport (BRT) dan pembahasan APBD 2008. Seperti diduga sebelumnya, lolosnya proyek BRT dalam APBD 2008 yang tanpa menyertakan Detail Enginering Design (DED) bakal menuai masalah. Dan, tahap awal pemeriksaan polisi diarahkan pada masalah BRT yang dinilai menjadi pemicu munculnya praktik gratifikasi oleh Pemkot Surabaya kepada DRPD Surabaya.

Akhmad Suyanto mengatakan, selain pertanyaan mengenai BRT dan PBD 2008, dirinya juga mendapat pertanyaan seputar pemerimaan uang suap. Dia mengaku, tidak menerima uang tersebut. Sebab, ujar Akhmad Suyanto, pada 28-30 Nopember 2007 dirinya sedang berada di Jakarta menerima tugas dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Padahal, pada tanggal-tanggal itulah dimungkinkan praktik suap untuk memuluskan APBD 2008 terjadi.
“Terus terang saya bersama dua anggota dewan PKS lain (Yulyani dan Ahmad Jabir–red) tidak menerima, sebab kami bertiga waktu itu sedang di Jakarta untuk studi banding penataan organisasi di PKS,” katanya.

Sedangkan Retna Wangsa Bawana (PDS) mendapat 25 pertanyaan ini mengaku menerima uang tersebut. Hanya saja, ujar kader PDS yang menjabat Ketua Komisi A DPRD Surabaya ini, uang suap yang dimasukan dalam amplop tersebut tidak pernah dibuka. Alasanya, dirinya tidak mengetahui uang tersebut dari mana dan untuk keperluan apa.
“Memang saya terima, tapi tidak pernah saya buka karena tidak tahu untuk apa dan darimana. Baru setelah diminta uang tersebut untuk dikembalikan saya langsung kembalikan, tanpa melihat isinya,” terang Retna.

Sementara itu, tiga anggota dewan lainya yakni Agustin Poliana, Husein Yasin, dan Yuzuar Datuk yang keluar dari rung penyidikan pukul 11.25 WIB lebih memilih bungkam ketika diserbu bermacam pertanyaan oleh wartawan. Yuzuar berkali-kali meminta wartawan untuk menanyakan persoalan pemeriksaan tersebut kepada pihak penyidik

Sedangkan Agustin Poliana yang terakhir keluar ruang penyidik langsung menhindar dari kejaran wartawan. Padahal, beredar kabar bahwa kader PDIP itu-lah yang memegang kunci mengenai adanya praktik suap untuk
memuluskan APBD 2008.
Saat pemeriksaan kemarin, Akhmad Suyanto sempat ‘dikerjai’. Saat bertanya ruang pemeriksaan, ia ditunjukkan ke lantai 2, padahal ruang satpiter di ruang 1.
Karena ruang pemeriksaan ada di lantai satu, akhirnya Yanto kembali turun. Kali ini para Jurnalis sudah siap dengan kameranya. Mengetahui dirinya dikerjain, Akhmad Suyanto hanya tersenyum tanpa banyak komentar. “Nggak apa-apa yang penting sudah dapat gambarnya,”ujar seorang jurnalis TV yang disambut tawa belasan jurnalis lainnya.

Yuzuar usai pemeriksaan enggan menjawab pertanyaan wartawan. Dia langsung mengeluarkan jurus amnesia atas proses pemeriksaan yang dijalaninya. “Saya lupa..saya lupa,” ujarnya sembari menjauh.
Sementara itu, Agustin Poliana yang disebut-sebut sebagai tokoh yang membagikan uang tersebut langsung berlari dari kerumunan wartawan. Tidak satu patah kata pun disampaikan dari mulut politisi PDIP tersebut.

Sementara itu, Retna Wangsa Bawana mengaku mendapat 25 pertanyaan. Pertanyaan itu seputar pembahasan APBD termasuk busway juga pertanyaan soal menerima uang tersebut. “Saya menerima uang itu dalam amplop tapi tidak saya buka karena saya tidak tahu isinya. Dan ketika pak ketua (Musyafak Rouf, Ketua DPRD Surabaya) meminta uang itu dikembalikan ya saya kembalikan. Semuanya sudah saya ceritakan ke penyidik,” ujarnya berterus terang sambil meninggalkan wartawan.(rio/lan)

Tinggalkan Balasan