Akhmad Suyanto, Anggota DPRD Kota Surabaya dari PKS
SURABAYA—Ini kabar tak menyenangkan bagi siapapun yang menggantungkan hidupnya di lokalisasi Dolly dan Jarak. Kemarin, Pemkot dan DPRD Surabaya sepakat menutup tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara itu. Alasannya, keberadaan Dolly dan Jarak tidak sesuai dengan Perda No. 7 tahun 1999 tentang larangan penggunaan bangunan untuk prostitusi.
Kesepakatan antara Pemkot dan DPRD Surabaya tersebut tertuang dalam hearing lanjutan Komisi A dengan Balitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan) Pemkot Surabaya, Selasa malam lalu.
’’Memang dalam hearing tersebut telah disepakati dewan dan pemkot untuk melaksanakan penutupan terhadap seluruh lokalisasi di Surabaya,” ujar anggota komisi A DPRD Surabaya, Akhmad Suyanto, kepada Surabaya Pagi (Surabaya Mandiri Group) kemarin.
Menurut dia, kesepakatan ini merupakan implementasi dari penegakan Perda (Peraturan Daerah) No. 7 tahun 1999 tentang larangan penggunaan bangunan untuk ajang prostitusi. Wali Kota Surabaya Bambang DH juga sudah setuju terhadap penutupan lokalisasi tersebut. Hal tersebut, ditunjukkan dengan sikap perwakilan dari FPDIP di Komisi A, Krisnadi Nasution.
Sebagai tindak lanjut atas kesepakatan penutupan lokalisasi tersebut, Komisi A akan mengundang seluruh dinas yang terkait untuk secepatnya merealisasikan. ’’Jadi, pegajuan anggaran untuk penelitian oleh Balitbang secara otomatis sudah dicoret. Selanjutnya, kegiatannya berupa FS (Feasibility Study) atau studi kelayakan yang dilaksanakan oleh Bappeko,” terang Suyanto, anggota dewan asal PKS ini.
Kapan penutupannya? Pelaksanaan FS, DED (detail engineering design) yang dilanjutkan dengan implementasi, diperkirakan memakan waktu tiga tahun. Berarti, paling lambat tiga tahun lagi Surabaya akan bersih dari keberadaan lokalisasi itu. ’’Intinya dalam hal ini langsung berbentuk studi kelayakan, bukan hanya kajian yang hanya berbentuk wacana,” paparnya. ’’Dan kita sangat berharap Bappeko serius dan konsisten dalam melaksanakan kesepakatan ini,” tambahnya.
Menanggapi hal ini, Ketua Umum FKMLS (Forum Komunikasi Masyarakat Lokalisasi Surabaya), Syafik, sepertinya pesimis bahwa Pemkot akan bisa benar-benar melaksanakan penutupan seperti yang telah disepakati dengan DPRD tersebut. Sebab, dampak yang akan ditimbulkan dari penutupan lokalisasi itu sangat kompleks, mulai dampak sosial, psikologi, hingga dampak ekonomi. ’’Kita sih tidak masalah, yang penting Pemkot juga bisa mengatasi segala dampak yang bakal terjadi,” kata Syafik.
Apalagi, keberadaan lokalisasi di Surabaya sudah sangat lama, bahkan sudah menjadi lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Tentunya tidak mudah untuk bisa menutup begitu saja komunitas prostitusi tersebut, meski keberadaanya tidak sesuai denan peraturan yang berlaku.
Yang jelas, lanjut Syafik, untuk bisa membersihkan Surabaya dari lokalisasi tidak harus serta merta dengan cara melakukan penutupan. “Jika ada penyuluhan, pembinaan, dan pendekatan terhadap agama, saya rasa lokalisasi akan hilang dengan sendirinya. Terbukti dari hasil pembinaan yang selama ini kita lakukan, ada beberapa titik lokalisasi yang sudah semakin tergeser,” jelasnya.
’’Dan masalah sepertinya bukan hanya tanggung jawab Pemkot saja, tapi para pemuka agama, dan seluruh lapisan masyarakat juga bertanggung jawab atas semua itu,” tambahnya.
Sementara itu, dari data di FKMLS, secara keseluruhan di Surabaya ada sebanyak 898 wisma dengan jumlah PSK rata-rata 9-10 orang. Sedangkan khusus untuk yang berada di lingkungann Dolly dan sekitarnya ada sedikitnya 450 wisma dengan rincian: di gang Dolly ada 55 wisma, Jarak Rw 11 ada 153 wisma, Jarak Rw 3 sebanyak 98 wisma, Jarak Rw 10 ada sebanyak 90 wisma dan di Jarak Rw 12 dan Rw 6 terdapat 54 wisma.
Sementara, jumlah PSK-nya jika dihitung rata-rata 10 PSK di masing-masing wisma, total ada sekitar 8.000-an. Itu berarti, jika benar-benar lokalisasi ditutup, maka 8 ribu PSK akan menjadi pengangguran. Jumlah pengangguran akan semakin banyak, bahkan hingga puluhan ribu, setelah ditambah para pelayan, mucikari, dan berbagai usaha yang menggantungkan hidupnya di lokalisasi seperti juru parkir, penjual makanan dan minuman, jasa loundry, dan sebagainya. fik
url : http://www.surabayasore.com/v1/index.php?p=detilsearching&tbl=BERITA&id=7508
DIarsipkan di bawah: Legislasi | Ditandai: Uncategorized
tolong dolly jangan ditutup…
kasihan mereka…pasti akan terjadi ledakan pengangguran besar-besaran..
asal tahu aja cari kerja di zaman sekarang sulit.
terima kasih.
Tutup Dolly? Rasanya tidak mungkin selama pejabat pemkot ikut merasakan nikmatnya kawasan Dolly (dalam berbagai konotasi). Dalam hal ini dibutuhkan pimpinan yang tegas yg bau badannya tidak berbau aroma Dolly. Alasan klasik orang2 yg berparfum aroma Dolly, adalah bagaimana nasib wanita2 disana ? bagaimana dengan HAM mereka ? Dan akhirnya timbul pemikiran sok bijaksana tapi bodoh ” biarkan saja masyarakat yg menilai, kalo masyarakat sudah sadar tentu akan hilang sendiri”. Benar-benar bijaksana tapi tetap bodoh. Dalam sejarah manusia hidup, kalo ada maksiat tentu tidak akan hilang dalam sendirinya. Sampai kiamatpun kalo dibiarkan saja Dolly akan tetap banyak peminatnya. Tergantung pemerintah kota yg bijaksana, gemar berparfum aroma Dolly atau ganti parfum aroma surgawi ?
Terminologi para pemimpin kita tentang pariwisata, khususnya wisata malam adalah kemaksiatan. Ada yang kurang tepat dalam merumuskan definisi wisata tersebut. Wisata sebagai aktifitas berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain untuk bersenang-senang dan relaksasi. Sehingga menjadi tak terhingga, hal-hal yang bisa digali dari tujuan (tourist destination) di Surabaya. Selain wisata budaya, wisata kuliner, wista religi, dll, masih banyak yang bisa dieksplorasi di kota Surabaya. Cagar budaya yang sedemikian banyak, banyak yang terabaikan. Kami dari pelaku pariwisata sering merasa sedih ketika para turis lebih senang bertanya dimana lokasi dolly ketimbang mengapresiasi peninggalan budaya masa lalu.
Thailand menginvestasi milyaran Bath untuk mengubah image negatf mereka. Dan sedang berusaha keras menggalakkan wisata keluarga. Secara matematis pun, wisata sex jauh lebih kecil menghasilkan uang.
Ada sebab -ada akibat
Ada Pengangguran ada pelacuran
Sebagian besar pelacur bukan karena dia bercita-cita jadi pelacur, tapi sebagian besar karena keterpaksaan yang disebabkan oleh hiimpitan sosial ekonomi, Jadi Cak kalau mau nutup tuh tempat orang melacur (lokalisasi) yang harus disiapin adalah rehabilitasi sosial ekonomi para penghuninya. Kalau udah ditutup tanpa ada solusi sosial ekonominya kegiatan prostitusi bakal meleber ke sekitarnya, yang ada nanti mereka melacurkan diri ditempat kos-kosan yan g tersebar merata di Kota Surabaya. Makanya Cak jangan pake istilah halus-halusan misal PSK, WTS udah saja satu istilah PELACUR, supaya secara sosial jelas bahwa perbuatan itu adalah NIsta dan Hina. Begitu kan?